KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

PERHATIAN:

Selamat datang di blog sederhana kami. Kapan lagi anda mendapatkan KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat Kedokteran hanya dengan donasi @ Rp. 25.000 / KTI Skripsi sistem pembayaran mudah hanya dengan transfer pulsa. Layanan ini akan tetap eksis.
BUKTI dari layanan kami: sampai hari ini, kami sudah melayani 756 pesanan dari seluruh Indonesia. Silahkan pesan sekarang juga..
Manfaatkan kunjungan anda karena mungkin anda tidak datang ke blog ini untuk kedua kali.

KOTAK PENCARIAN:

kesulitan dalam mencari judul KTI Skripsi Gunakan pencarian berikut:

Pengaruh Penatalaksanaan IMD Terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD

Sunday, July 22, 2012


A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Di negara berkembang, saat melahirkan dan minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode kritis bagi ibu dan bayinya. Sekitar dua per tiga kematian terjadi pada masa neonatal, dua per tiga kematian neonatal tersebut terjadi pada minggu pertama, dan dua per tiga kematian bayi pada minggu pertama tersebut terjadi pada hari pertama. Sedangkan di Indonesia, AKB mencapai 48 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005 (Aprillia, 2009; 1).
Banyak tindakan yang relatif murah dan mudah diterapkan untuk meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir. Salah satunya adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir atau biasa disebut inisiasi menyusui dini serta pemberian ASI Eksklusif. Hal ini didukung oleh pernyataan United Nations Childrens Fund (UNICEF), bahwa sebanyak 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia pada tiap tahunnya, bisa dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak tanggal kelahirannya, tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi (Aprillia, 2009; 1).
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu). Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang merekomendasikan IMD sebagai tindakan penyelamatan kehidupan, karena IMD dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan (Admin, 2010).
Faktanya dalam satu tahun, empat juta bayi berusia 28 hari meninggal. Jika semua bayi di dunia segera setelah lahir diberi kesempatan menyusu sendiri dengan membiarkan kontak kulit ibu ke kulit bayi setidaknya selama satu tahun maka satu juta nyawa bayi ini dapat diselamatkan (Roesli, 2008; 9).
Berdasarkan hasil penelitian Sose, dkk CIBA fundation (1987) dalam Roesli, U (2010; 6) yaitu bayi yang diberi kesempatan menyusu dini dengan meletakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit setidaknya satu jam, hasilnya dua kali lebih lama disusui. Pada usia enam bulan dan setahun, bayi yang diberi kesempatan untuk meyusu dini, hasilnya 59% dan 38% yang masih disusui. Bayi yang tidak diberi kesempatan menyusu dini tinggal 29% dan 8% yang masih disusui di usia yang sama (Roesli, 2008; 9).
Lidwina (2007), menyebutkan bahwa di Indonesia hanya 8% ibu memberi ASI eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan dan hanya 4% bayi disusui ibunya dalam waktu satu jam pertama setelah kelahirannya. Padahal, ditegaskan oleh dr Utami bahwa sekitar 21.000 kematian bayi baru lahir (usia di bawah 28 hari) di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI pada satu jam pertama setelah lahir.
Setelah dilakukan studi pendahuluan di RSUD. pada tanggal 17 Februari didapatkan bahwa jumlah ibu yang melahirkan secara normal pada tahun 2007 sebanyak 1.218 orang, tahun 2008 sebanyak 1.227 orang, tahun 2009 sebanyak 1258 orang, tahun 2010 sebanyak 1263 orang sedangkan pada tahun (01 Januari-2 Februari) sebanyak 107 ibu bersalin dan yang dilakukan IMD terdapat 55 orang (51,4%).
Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Ruang Bersalin (Ny. Y.P) di RSUD. bahwa IMD mulai disosialisasikan sejak tahun 2007 hingga sekarang. Akan tetapi masih terdapat pula ibu-ibu yang tidak mau dilakukan IMD tersebut dengan berbagai alasan misalnya, bayi akan kedinginan, ibu merasa kelelahan, dan ASI yang di keluarkan merupakan ASI yang tidak baik untuk bayi. Untuk menambah pengetahuan ibu tentang pentingnya IMD pada proses persalinan dan menyusui, bidan berupaya dengan cara memberi penyuluhan kesehatan kepada ibu tentang pentingnya IMD.
Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa orang ibu postpartum (Ny. A, Ny. M, Ny. V.L, Ny. N.R) yang dilakukan IMD, didapatkan bahwa mereka mengatakan dapat menyusui pada hari pertama, namun masih ada juga ibu yang mengatakan kalau mereka harus dilakukan rangsangan atau perawatan payudara terlebih dahulu setelah itu ASI baru dapat keluar.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. ”.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada Pengaruh Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu Postpartum di RSUD. ?

3. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya Pengaruh Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. .
b. Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini pada Ibu postpartum di RSUD. .
2) Mengidentifikasi waktu pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. .
3) Mengidentifikasi tentang pengaruh penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini terhadap waktu pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. .

4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk :
a. Manfaat Teoritis
Memberikan pengalaman bagi peneliti dalam pelaksanaan penelitian mulai dari pengolahan sampai hasil penelitian dan dapat dijadikan bahan acuan bagi peneliti selanjutnya yang berminat pada judul penelitian ini.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi petugas kesehatan khususnya tenaga bidan
Dapat melaksanakan secara tepat penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini segera setelah bayi lahir agar kegagalan menyusui pada bayi dapat berkurang dan suplai ASI ibu tetap terjaga.
2) Bagi Masyarakat
Memberikan masukan kepada masyarakat khususnya ibu hamil tentang pentingnya IMD yang dapat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI Ekslusif (ASI saja) sehingga bayi akan terpenuhi kebutuhannya selama 2 tahun dan dapat mencegah bayi kurang gizi.
5. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti terdapat judul penelitian yang mirip yaitu:
a. Lalu M., 2009, “Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini di BLUD RSU Dr. M. M. Dunda”.
Jenis Penelitian : Deskriptif korelasi dengan pendekatan evaluasi.
Populasi : Ibu yang dilakukan IMD sebanyak 13 orang.
Tehnik Sampling : Total sampling
Variabel : 1. Bebas : Tingkat Pendidikan Ibu.
2. Terikat: Penatalaksanaan Insiasi Menyusui Dini.
Hasil : Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di BLUD. RSU. Dr. M. M. Dunda Limboto diperoleh hasil penelitian dari 13 responden terdapat 9 orang ibu melahirkan yang tingkat pendidikan baik (69,23%) dan 4 orang ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang tidak baik (30,77%) sedangkan yang melakukan seluruh tahapan penatalaksanaan IMD ada 7 orang ibu dari 13 responden yang ada (53,85%) dan yang tidak melakukan seluruh tahapan penatalaksanaan IMD ada 6 orang (46,15%). Dari perhitungannya dapat diketahui bahwa nilai X2 tabel (6,71 > 3,84).
Kesimpulan : Adanya hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan penatalaksanaan inisiasi menyusui dini.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.300

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Umur, Pendidikan Orang Tua, Psikologis, Sumber Informasi, Peran Teman Sebaya dengan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Perubahan Seks Sekunder


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
WHO dan beberapa badan dunia lainnya pada tahun 1998 menghimbau semua negara Asia tenggara agar memberikan komitmennya untuk memperhatikan dan melindungi remaja akan informasi, keterampilan, pelayanan, lingkungan yang umum dan kesehatan reproduksi remaja (soetjiningsih, 2004)
Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja (10-19 tahun) sekitar 900 juta berada di negara berkembang, di Amerika Serikat tahun 1990 menunjukan remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi, di Asia Pasifik di mana penduduknya merupakan 60% dari penduduk dunia seperlimanya adalah remaja 10-19 adalah sekitar 22% yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (Nancy. 2002).
Awal masa remaja berlangsung kira-kira 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia matang secara hukum. Dengan demikian akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat. (Hurlock, 2000).
Sedangkan menurut WHO batasan usia remaja adalah 12-24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa, atau bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan dalam kelompok remaja.
Sejak tahun 2000, pemerintah mencanangkan suatu program yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja yang sasarannya adalah siswa SLTP, dan Remaja Karang Taruna. Pelaksanaan program ini secara lintas sektoral instansi pemerintah dan swasta dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan remaja tentang kesehatan reproduksi dan penyakit menular seksual (Llywellyn-Jones, 1997).
Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut sebagai masa pubertas yaitu masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Tetapi umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan. (Hendriati Agustian,2006).
Masa permulaan pubertas pada anak perempuan biasanya terjadi antara usia 10 sampai 14 tetapi bisa lebih awal (pubertas dini) atau terlambat, tergantung dengan faktor-faktor genetik individu. Masa pubertas berlangsung selama kira-kira lima tahun dan sebagaimana terjadi pada anak laki-laki, diawali dengan pelepasan hormon-hormon dari kelenjar pituitary yang kemudian bertindak secara langsung pada organ-organ seksual. Kejadian yang paling dramatis bagi para anak perempuan adalah masa awal menstruasi (menarche) sebagai respon untuk produksi dan pelepasan hormon-hormon perempuan tersebut, estrogen dan progesteron. Indung telur matang dan mulai melepaskan telur-telur dan uterus membesar, bersamaan dengan perkembangan dan kedewasaan organ-organ kemaluan. Masa pertumbuhan yang cepat yang menghasilkan tinggi dan berat menyertai perubahan-perubahan tersebut. Kedua pinggul melebar dan pola pendistribusian lemak berubah untuk memproduksi bentuk tubuh perempuan yang karakteristik. Juga karakteristik-karakteristik seksual sekunder berkembang sebagai kelanjutan-kelanjutan

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, adalah rendahnya pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder dan belum diketahui factor-faktor yang mempengaruhi tentang peruban seks sekunder.

C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan umum
Untuk mengetahui Hubungan Antara Umur, Pendidikan Orang Tua, Psikologis, Sumber Informasi, Peran Teman Sebaya Dengan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Perubahan Seks Sekunder di SMPN 09 .
b. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder.
b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder berdasarkan umur.
c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder berdasarkan pendidikan orang tua.
d. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder berdasarkan psikologis.
e. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder berdasarkan sumber informasi.
f. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder berdasarkan peran teman sebaya.
g. Untuk mengetahui hubungan antara umur dengan pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder.
h. Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan orang tua dengan pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder.
i. Untuk mengetahui hubungan antara psikologis dengan pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder.
j. Untuk mengetahui hubungan antara sumber informasi dengan pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder.
k. Untuk mengetahui hubungan antara peran teman sebaya dengan pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder.

D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan.
b. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai pengetahuan remaja putri tentang perubahan seks sekunder sehigga pihak sekolah dapat memasukkan materi mengenai perubahan seks sekunder dalam mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
c. Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat jadi pengalaman bagi penulis dalam melakukan sebuah penelitian, dapat memberikan masukan mengenai hal-hal apa saja yang akan diteliti untuk penelitian lain yang meneliti mengenai perubahan seks sekunder.
d. Bagi Responden
Agar remaja putri di SMPN 09 mendapat tambahan pengetahuan perubahan tentang pubertas khususnya tentang seks sekunder.

E. Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di SMPN 09 melalui pengumpulan data yang diambil mulai Oktober s/d November 2010 dengan jumlah sample Orang remaja putri terdiri dari kelas I dan II. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan tentang tingkat pengetahuan remaja tentang perubahan seks sekunder, dan pembagian kuesioner. Variable yang diteliti yaitu: umur, pendidikan orangtua, psikologis, sumber informasi, teman sebaya.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.299

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Mobilisasi Dini Ibu Post Sectio Caesaria dengan Penyembuhan Luka Operasi di Ruang Nifas RSUD


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sectio Caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus. Akan tetapi, persalinan melalui Sectio Caesaria bukanlah alternatif yang lebih aman karena di perlukan pengawasan khusus terhadap indikasi di lakukannya Sectio Caesaria maupun perawatan ibu setelah tindakan Sectio Caesaria, karena tanpa pengawasan yang baik dan cermat akan berdampak pada kematian ibu. Oleh karena itu pemeriksaan dan monitoring dilakukan beberapa kali sampai tubuh ibu dinyatakan dalam keadaan sehat (1). Salah satu upaya untuk mencegah kejadian ini dapat dilakukan mobilisasi dini (Early Ambulation).
Mobilisasi dini ialah kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin untuk berjalan. Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat pemulihan pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah. Dengan mobilisasi dini diharapkan ibu nifas dapat menjadi lebih sehat dan lebih kuat, selain juga dapat melancarkan pengeluaran lochea, membantu proses penyembuhan luka akibat proses persalinan, mempercepat involusi alat kandungan, melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan serta meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi air susu ibu (ASI) dan pengeluaran sisa metabolisme (2).
Persalinan yang dilakukan dengan operasi membutuhkan rawat inap yang lebih lama di rumah sakit. Hal ini tergantung dari cepat lambatnya kesembuhan ibu akibat proses pembedahan. Biasanya, hal ini membutuhkan waktu sekitar 3 - 5 hari setelah operasi. Ibu yang baru menjalani seksio sesaria lebih aman bila diperbolehkan pulang pada hari keempat atau kelima post partum dengan syarat tidak terdapat komplikasi selama masa nifas. Komplikasi setelah tindakan pembedahan dapat memperpanjang lama perawatan dan memperlama masa pemulihan di rumah sakit (3).
Pada Sectio Caesaria terjadi perlukaan baik pada dinding abdomen (kulit dan otot perut) dan dinding uterus. Adanya luka post Sectio Caesaria merupakan salah satu faktor yang memperpanjang lama perawatan ibu post Sectio Caesaria di rumah sakit. Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan dari luka post Sectio Caesaria antara lain adalah suplay darah, infeksi dan iritasi. Dengan adanya mobilisasi dini diharapkan akan menyebabkan perbaikan supply darah sehingga berpengaruh terhadap kecepatan proses penyembuhan luka post Sectio Caesaria (4).
Menurut Kasdu (3) mobilisasi dini post Seksio Cesarea dapat dilakukan secara bertahap sebagai berikut : Setelah operasi, pada 6 jam pertama ibu pasca operasi Seksio Caesarea harus tirah baring dulu. Mobilisasi dini yang bisa dilakukan adalah menggerakkan lengan, tangan, menggerakkan ujung jari kaki dan memutar pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis serta menekuk dan menggeser kaki; Setelah 6 - 10 jam, ibu diharuskan untuk dapat miring kekiri dan kekanan untuk mencegah trombosis dan trombo emboli; Setelah 24 jam ibu dianjurkan untuk dapat mulai belajar untuk duduk; Setelah ibu dapat duduk, dianjurkan ibu belajar berjalan.
Di RSUD selama tahun 2009, jumlah ibu yang melahirkan secara keseluruhan sebanyak 1.019 orang, 308 orang ibu (30,2%) diantaranya dengan persalinan Sectio Caesaria. Persalinan Sectio Caesaria di RSUD dilakukan dengan berbagai indikasi baik dari faktor ibu maupun faktor janin. Faktor ibu diantaranya karena penyakit preeklampsia berat (11,04%), ketuban pecah dini (9,74%) dan kelainan kontraksi rahim (8,77%). Faktor janin sebagian besar disebabkan karena kelainan letak janin sebanyak 33 kasus (10,72%), kelainan plasenta baik plasenta previa maupun solusio plasenta sebanyak 31 (10,06%) dan 4,54% karena gawat janin (fetal distress) (5).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti selama mengikuti kegiatan praktek klinik kebidanan pada periode bulan November 2009 di Ruang Nifas RSUD yaitu dengan melakukan wawancara kepada 10 ibu post Sectio Caesaria didapatkan kenyataan bahwa terdapat enam (60%) ibu yang tidak mau melakukan mobilisasi dini yang disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya ibu merasakan nyeri pada luka post Sectio Caesaria. Rasa nyeri masih dirasakan ibu 2 - 3 hari setelah operasi dan umumnya membuat ibu malas untuk melakukan mobilisasi atau menggerakkan badan dengan alasan takut jahitan lepas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Emelia (2009) yang menyatakan bahwa ada hubungan tingkat nyeri post Sectio Caesaria dengan motivasi ibu untuk melakukan kontak dini.
Berdasarkan fenomena tersebut dan mengingat pentingnya mobilisasi dini untuk penyembuhan luka post Sectio Caesaria dan pemulihan kesehatan ibu maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang hubungan mobilisasi dini ibu post Sectio Caesaria dengan penyembuhan luka operasi di Ruang Nifas RSUD Tahun .

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu sebagai berikut: “Apakah ada hubungan mobilisasi dini ibu post Sectio Caesaria dengan penyembuhan luka operasi di Ruang Nifas RSUD Tahun ? “

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui hubungan mobilisasi dini ibu post Sectio Caesaria dengan penyembuhan luka operasi di Ruang Nifas RSUD Tahun 2010.
1.3.2 Tujuan khusus
1). Mengidentifikasi mobilisasi dini ibu post Sectio Caesaria di Ruang Nifas RSUD Tahun .
2). Mengidentifikasi penyembuhan luka operasi ibu post Sectio Caesaria di Ruang Nifas RSUD Tahun
3). Menganalisis hubungan mobilisasi dini ibu post Sectio Caesaria dengan penyembuhan luka operasi di Ruang Nifas RSUD Tahun

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :
1.4.1 Bagi Ibu
Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu tentang tentang pentingnya melakukan mobilisasi dini setelah menjalani persalinan yang bermanfaat pemulihan kesehatan fisiknya seperti keadaan semula .
1.4.2 Bagi Ilmu dan Profesi Kebidanan
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu kebidanan serta merupakan masukan informasi yang berharga bagi profesi bidan dalam menyusun program pemberian pendidikan kesehatan tentang pentingnya melakukan mobilisasi dini setelah menjalani persalinan.
1.4.3 Bagi RSUD
Penelitian ini dapat digunakan sebagai penilaian dan pemikiran terhadap pelayanan yang telah diberikan terutama dalam pemberian asuhan kebidanan kepada ibu post Sectio Caesaria selama perawatan masa nifas.
1.4.4 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan perbandingan serta dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan.
1.4.5 Bagi Penulis
Penelitian ini sebagai sarana dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama pendidikan dengan kenyataan yang ada di lapangan dan pengalaman yang sangat berguna dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu serta untuk menambah wawasan dalam pembuatan karya tulis ilmiah.

1.5 Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai hubungan mobilisasi dini ibu post Sectio Caesaria dengan penyembuhan luka operasi di Ruang Nifas RSUD Tahun belum pernah dilakukan di Akademi Kebidanan , tetapi ada penelitian-penelitian sebelumnya yang mendukung dan berkaitan dengan penelitian ini yaitu yang berjudul :
1. Hubungan penilaian afterpain dengan motivasi ibu untuk mobilisasi dini pasca persalinan spontan di BPS wilayah kerja Puskesmas (6). Penelitian ini bersifat survey analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Pengambilan sampel secara Accidental Sampling dengan tehnik pengumpulan data kuesioner. Analisis data menggunakan Korelasi Spearman’s. Secara statistik penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara penilaian afterpain pasca salin dengan motivasi ibu untuk melakukan mobilisasi dini pasca persalinan spontan (p = 0,000). Perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah pada tujuan penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data yaitu observasi, serta teknik analisis data dengan Chi-Square Test.
2. Hubungan tingkat nyeri post Sectio Caesaria dengan motivasi ibu untuk melakukan kontak dini di Ruang Nifas RSUD Tahun 2009 (7). Penelitian ini bersifat survey analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Pengambilan sampel secara Total Sampling dengan tehnik pengumpulan data menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dan kuesioner. Analisis data menggunakan Korelasi Spearman’s. Secara statistik penelitian ini menunjukkan ada hubungan tingkat nyeri post Sectio Caesaria dengan motivasi ibu untuk melakukan kontak dini (p value = 0,000). Perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah pada tujuan penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data yaitu observasi, serta teknik analisis data dengan Chi-Square Test.
3. Gambaran tentang mobilisasi dini pada ibu post partum dengan tindakan operasi Sectio Caesaria terhadap percepatan penyembuhan luka operasi di Ruang Nifas RSUD Banjarbaru Tahun 2008 (8). Penelitian ini bersifat deskriftif. Pengambilan sampel secara Purposive Sampling dengan metode pengumpulan data observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mobilisasi ibu post partum Sectio Caesaria kurang baik. Sedangkan percepatan penyembuhan luka operasi sebagian besar < 5 hari. Perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah pada rancangan penelitian survey analitik, tujuan penelitian, variabel penelitian (bebas dan terikat), tempat dan waktu penelitian serta teknik analisis data dengan Chi-Square Test.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.298

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Pengembangan Desa Siaga dengan Peningkatan Motivasi Masyarakat Desa dalam Melaksanakan PHBS


BAB 1
PENDAHUUAN

1.1. Latar Belakang
Desa siaga adalah sebuah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan (bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri. (KEPMENKES NO. 564/MENKES/SK/VIII/2006). Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (PKD/Poskesdes). Salah satu bentuk pembinaannya yaitu menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap tatanan dalm masyarakat.
Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi demografi dan epidemiologi penyakit, maka masalah penyakit akibat perilaku dan perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung akan semakin kompleks. Perbaikannya tidak tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan kesehatan, perbaikan pada lingkungan dan merekayasa kependudukan atau factor keturunan, tetapi perlu memperhatikan factor perilaku secara teoritis memiliki andil 30-35% terhadap derajat kesehatan.
Masalah kesehatan terus berkembang, penyakit baru bermunculan dan persebarannya cenderung menjadi ancaman global seperti SARS, HIV-AIDS, dan Flu Burung. Sedangkan penyakit lainnya yang akut dan berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti Demam Berdarah, Polio, dan Diare serta Gizi Buruk pada balita. Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur-unsur mortalitas dan yang mempengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah Angka Harapan Hidup Lahir. Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati tiga indicator, yaitu Angka Kematian Bayi per-1.000 kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita per-1000 Kelahiran Hidup, dan Angka Kematian Ibu Maternal per-1.00.000 Kelahiran Hidup. Untuk morbiditas disepakati beberapa indicator, yaitu Angka Kesakitan Malaria per-1.000 penduduk, Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA+, Prevalensi HIV (Persentase Kasus terhadap Penduduk Beresiko), Angka Acute Paralysis (AFP) pada Anak Usia <15 tahun per-100.000 Anak, Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per-100.000 Penduduk. Data UNDP tahun 2001 mencatat bahwa indeks Pembanguna Manusia (Human Development Indexs). Di Indonesia masih menempati urutan ke 102 dari 162 negara. Menkes menambahkan, masalah kesehatan yang dihadapi dewasa ini adalah perbedaan status kesehatan antar daerah yang masih tinggi, rendahnya kualitas kesehatan penduduk miskin, beban ganda penyakit, masih rendahnya kualitas, kuantitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat yang kurang mendukung (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) PHBS. Sementara itu masalah kesehatan masyarakat seperti TBC, Kusta dan Penyakit infeksi lainnya belum sepenuhnya dapat diatasi. Kondisi ini diperberat oleh menurunnya status kesehatan akibat gizi buruk, khususnya pada kelompok rentan. Pada sisi lain terdapat beberapa wilayah tertimpa bencana alam, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya fisik, tetapi juga menyisakan trauma dan maslah kesehatan. Salah satu indikator keberhasilannya adalah perilaku hidup bersih dan sehat yang didefinisikan sebagai perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat .( Ir. Dunanty RK Sianipar,MPH:2006). Pengembangan Desa Siaga penting untuk dilakasanakan karena Desa Siaga merupakan basis bagi Indonesia sehat 2010. Pengembangan Desa Siaga dilaksanakan dengan pendekatan penggerakan dan pengorganisasian masyarakat agar kelestariannya lebih terjamin. Untuk keberhasilan pengembangan Desa Siaga, puskesmas dan jaringannya, rumah sakit dan Dinkes Kabupaten / Kota perlu direvitalisasi. Berbagai pihak yang bertangung jawab untuk pengembangan Desa Siaga (stakeholders) diharapkan dapat berperan optimal sesuai tugasnya, agar pengembangan Desa Siaga berhasil. Dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 telah ditetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Pembangunan Sumber Daya Kesehatan, yang merupakan bagian dari Pembangunan Kesehatan (SDK). Tercantum dalam Bab 28. Sasaran yang dicapai Pembangunan Kesehatan adalah: • Meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun • Menurunnya angka kematian bayi 45 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup • Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup. • Menurunnya prevalensi gizi kurang anak balita dari 25,8% menjadi 20 % Dengan telah ditetapkannya sasaran tersebut, maka Departemen Kesehatan merumuskan Visi Departemen Kesehatan dalam rangka mencapai Visi Indonesia Sehat, yang saat ini ditengarai dengan indikator-indikator sebagaimana tersebut diatas. Adapun Visi Departemen Kesehatan adalah ”Masyarakat yang Mandiri Untuk Hidup Sehat” dengan Misi ”Membuat Masyarakat Sehat”, yang akan dicapai melalui strategi: 1) Menggerakkan dan membudayakan masyarakat hidup sehat 2) Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas 3) Meningkatnya sistem surveilans, monitoring, dan informasi kesehatan 4) Meningkatkan pembiayaan kesehatan Berkaitan dengan strategi tersebut, salah satu sasaran terpenting yang ingin dicapai adalah ”Pada Akhir Tahun 2008, Seluruh Desa Telah Menjadi Desa Siaga”. Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), kejadian bencana, kecelakaan, dan lain-lain, dengan memanfaatkan potensi setempat, secara gotong royong. Pengembangan Desa Siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa, menyiap siagakan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah efektifitas pengembangan Desa Siaga yang sudah dilakukan? 2. Adakah peningkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat? 3. Adakah hubungan pengembangan Desa Siaga dengan peningkatan motivasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum ”Diketahuinya hubungan pengembangan desa siaga dengan peningkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.” 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengidentifikasi efektifitas pengembangan desa siaga. 2. Mengidentifikasi peningkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. 3. Mengidentifikasi hubungan pengembangan desa siaga dengan penigkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Profesi Keperawatan Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan yang akan dilakukan dalam pengembangan desa siaga. 1.4.2 Bagi Tenaga Kesehatan Untuk memberikan gambaran, arahan, acuan bagi pengelola program PHBS, sehingga dapat saling mengisi dan saling bekerjasama dalam melaksanakan program pembangunan kesehatan. 1.4.2 Bagi Warga Masyarakat Desa Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk hidup sehat.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.297

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Pasien Melaksanakan Range Of Motion Exercise (ROM)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Latihan rentang gerak (Range of Motion Exercise) merupakan rehabilitasi yang bertujuan sebagai pencegahan dan pengoreksi suatu kemunduran dari sistem muskuloskeletal (Sandra S. at al, 1985). Klien yang dirawat dengan reposisi beserta immobilisasi lamanya sesuai dengan terjadinya kalus fibrosa (Win de Jong, 1997) dalam keadaan immobilisasi ini, maka otot-otot dan sendi-sendi tidak dapat bergerak untuk waktu yang lain (Soeharso, R, 1982), akan terjadi beberapa respon tubuh yaitu perubahan pada sistem muskuloskeletal berupa penurunan kekuatan dan massa otot.
Individu dengan immobilisasi selama satu minggu akan menurun kekuatan otot 20 % dan dapat menimbulkan kontraktur,dekubitus dan juga pneumonia ( Hettinger dan Muller). Untuk mencegah kemampuan komplikasi yang ditimbulkan maka diberikan latihan rehabilitas sedini mungkin pada waktu memberikan Asuhan keperawatan. Latihan rehabilitas ini dapat dilakukan dengan latihan rentang gerak pasif ( Pasif Range of Motion Exercise) dan latihan rentang gerak aktif ( Aktif Range of Motion Exercise) Sandra At al 1985.
Latihan gerak pasif adalah sutau latihan yang dilakukan perawat tanpa partisipasi pasien dan latihan rentang gerak aktif suatu latihan yang dilakukan oleh pasien sendiri dan diawasi oleh perawat.
Pelaksanaan latihan rentang gerak yang dilaksanakan oleh pasien merupakan suatu perilaku didalam kesehatan yang bertujuan untuk mencegah penyakit penyakit yang terjadi. Perilaku ini bersifat potensial yaitu dalam bentuk pengetahuan dan motivasi. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan untuk bertindak guna mencapai tujuan tertentu dalam bentuk perilaku ( E.J. Murray, 1964 )
Di RS Perjan pada bagian bedah orthopedi dari bulan Juni sampai dengan Desember 2002 terdapat 136 kasus fraktur, dimana terdapat fraktur femur 49 kasus ( 36 %), fraktur cruris 65 kasus ( 48 % ) dan fraktur Humerus 22 kasus ( 16 % ). Pasien – pasien tersebut telah mendapat penyuluhan tentang Range of Motion Exercise dari dokter maupun perawat yang bertugas, tetapi kepatuhan pasien untuk melakukan Range of Motion Exercise selama ini tidak dievaluasi sehingga keberhasilannya yang telah diberikan sulit di ukur. Berdasarkan data tersebut maka peneliti berminat malakukan penelitian dengan judul Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Pasien Melaksanakan Range of Motion Exercise di Ruang Bedah Ortopedi Perjan RS .
B. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari identifikasi masalah yang dikemukakan diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Pasien Melaksanakan Range of Motion Exercise di Ruang Bedah Ortopedi Perjan RS .

C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya masalah tentang Range of Motion Exercise maka penelitian ini dibatasi hanya pada Range of Motion Exercise aktif dengan fraktur pada ekstremitas bawah yaitu fraktur femur dan fraktur Cruris.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum.
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan Kepatuhan Pasien Melaksanakan Range of Motion Exercise di Ruang Bedah Ortopedi Perjan RS .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mendapatkan gambaran pengetahuan dengan kepatuhan melaksanakan Range of Motion Exercise di Ruang Bedah Ortopedi Perjan RS .
b. Untuk Mendapatkan gambaran tentang Kapatuhan pasien melaksanakan Range of Motion Exercise di Ruang Bedah Ortopedi Perjan RS .
c. Untuk mengetahui hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Pasien Melaksanakan Range Of Motion Exersice di Ruang Bedah Ortopedi Perjan RS .

E. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi serta masukan kepada tenaga pengelola perawatan tentang pentingnya pemberian pengetahuan kepada pasien sebelum melaksanakan Range Of Motion Exersice
2. Merupakan masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam keperawatan yang berkaitan dengan Range Of Motion Exersice.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.296

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Pengetahuan dengan Tingkat Kepatuhan Diet pada Pasien Gagal Ginjal yang Berobat di RSUP


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Amerika Serikat, negara yang sudah sangat maju dan tingkat gizinya tinggi, setiap tahun ada sekitar 20 juta orang dewasa menderita penyakit kronik ginjal dan setiap tahunnya sekitar 50.000 orang Amerika meninggal akibat gagal ginjal menetap. Di Indonesia penyakit gagal ginjal prosentasinya sudah mencapai sekitar 20 persen dari total jumlah penduduk.
Di Indonesia, terdapat sekitar 50.000 pasien gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah. Hanya sekitar 4000 orang yang bisa menikmati layanan tersebut. Itupun, 3000 pasien diantaranya merupakan peserta asuransi kesehatan. Sisanya terpaksa meninggal karena tidak mampu mambayar biaya cuci darah. Hal ini terjadi karena tingginya biaya setiap kali cuci darah yang mencapai Rp. 500.000,- sampai Rp.1000.000,-. Bila cuci darah harus rutin minimal 8 – 10 kali perbulan, maka harus disediakan dana sebesar Rp.4000.000 sampai Rp.5000.000,- setiap bulannya. Disamping masalah tingginya biaya perawatan dan pengobatan pasien gagal ginjal, hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu pengatahuan pasien dan keluarga tentang penyakit dan kepatuhan terhadap diet gagal ginjal yang masih sangat kurang sehingga menyebabkan penyakit yang diderita tidak terdeteksi secara dini, dan ditambah tidak ada diet yang sesuai sehingga dapat memperparah keadaan klinis dari gagal ginjal akut menjadi gagal ginjal kronis yang apabila tidak tertolong juga dengan prosedur hemodialisa, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.
Gagal ginjal bisa menyerang setiap orang, baik pria maupun wanita, tanpa memandang status sosial ekonomi. Bila gejala diketahui sedini mungkin, penderita bisa mendapat bantuan untuk mengubah atau menyesuaikan gaya hidup. Penderita baru dapat merasakan kelainan pada dirinya jika fungsi ginjal menurun sekitar 25 persen. Bahkan, untuk penderita yang masih muda bisa di bawah 10 persen. Tidak heran bila umumnya pasien baru ke rumah sakit atau ke dokter bila sudah berada dalam tahap terminal.
Perawat berperan penting dalam penatalaksanan pasien ginjal. Intervensi diet juga sangat perlu pada gangguan fungsi renal dan mencakup pengaturan yang cermat terhadap masukan protein, masukan cairan untuk mengganti natrium yang hilang, dan pembatasan kalium. Pada saat yang sama, masukan kalori yang adekuat dan suplemen vitamin harus dianjurkan.
Dengan mengikuti perawatan diet ketat rendah protein dengan kalori cukup dengan benar maka diharapkan pasien gagal ginjal mampu hidup secara normal, tapi bila pasien gagal ginjal tidak memperhatikan pelaksanaan diet tersebut maka akan mengakibatkan gagal ginjal kronis sampai dengan meninggal dunia.
Dengan melihat data tersebut diatas, maka dapat diketahui betapa pentingnya kepatuhan pasien menjalankan diet sehingga penulis tertarik untuk meneliti kasus tentang “Hubungan Pengetahuan dengan Tingkat Kepatuhan Diet Pada Pasien Gagal Ginjal yang berobat di RSUP ”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Apakah ada hubungan pengetahuan dengan tingkat kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal yang berobat di RSUP ”.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk melihat hubungan pengetahuan dan tingkat kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal yang berobat di RSUP ”.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan pasien gagal ginjal yang berobat di RSUP ”..
b. Mengetahui hubungan pengetahuan dengan tingkat kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal yang berobat RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.

D. Manfaat Penelitian
a. Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit utamanya bagi tenaga keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu Asuhan Keperawatan pada pasien yang mendapat terapi diet akibat penyakit yang dialami.
b. Institusi
Sebagai bahan acuan bagi pengembangan kurikulum pendidikan keperawatan agar senantiasa peka terhadap kenyataan yang ada di lapangan khususnya dalam menghadapi pasien yang mendapatkan diet Gagal Ginjal.
c. sebagai bahan acuan untuk penelitian dasar yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.295

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Ibu Menyusui di Wilayah Puskesmas


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat. Menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan pada bayi dan anak karena bayi dan anak merupakan golongan rentan.
(http://bared18.blogspot.com/2008/07/tentangASI).Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar empat bulan (Depkes R1, 1992)
Produksi ASI sangat dipengaruhi kondisi psikis si ibu. Bila hati ibu tenang, bahagia, maka produksi ASI-nya bakal berlimpah. ASI diproduksi sesuai dengan permintaan. Bila bayi Anda butuh 100 cc maka ASI yang bakal diproduksi pun 100cc. Jadi, jangan takut ASI-nya tidak mencukupi kebutuhan bayi (http://asuh.wikia.com/wiki/ASI_sedikit). ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu botol atau susu formula. Kalau hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.
Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997).
Makanan pendamping ASI (PASI) adalah makanan yang diberikan kepada bayi setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun. Namun, saat ini banyak ibu yang memberikan bayi mareka PASI, dan mereka menghentikan ASInya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya seperti tingkat pengetahuan ibu masih rendah sehingga menggantikan ASI dengan pemberian PASI. Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian ASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu produksi ASI. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (Manuaba, 1998).
Menyusui merupakan salah satu hal yang sangat penting guna kelangsungan hidup bayi dan sekaligus mempertahankan kesehatan ibu setelah melahirkan. ASI merupakan makanan terbaik dan alamiah untuk bayi. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja sampai umur 6 bulan. Dari 11.817 bayi di hanya 1.034 atau baru 8,75% yang diberi ASI eksklusif. Melihat hal tersebut maka angka ini belum mencapai target. (Profil , 2008 : 46).
Menurut data Dinas Kesehatan (2008) berdasarkan wilayah kerja Puskesmas bahwa jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif di Puskesmas 9,59%, Puskesmas Aur Duri 26,10% dan Puskesmas Tahtul Yaman 25,19%. Ketiga Puskesmas tersebut dipilih karena jarak antar Puskesmas tidak berjauhan. Puskesmas dengan jumlah bayi 292 orang hanya 28 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan persentase yang paling rendah diantara ketiga Puskesmas tersebut.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas , diketahui dari 29 bayi hanya 4 bayi (13,79%) yang diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang sebagai makanan tambahan bagi bayinya atau lebih dikenal dengan makanan pendamping ASI.
Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Tahun

B. Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah masih ada ibu dengan tingkat pengetahuan ASI yang rendah sehingga melakukan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun
Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun ?
2. Bagaimana gambaran pemberian PASI oleh ibu pada bayi 0-6 bulan di wilayah Puskesmas Tahun ?
3. Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun .
b. Diketahuinya gambaran pemberian PASI oleh ibu pada bayi 0-6 bulan di wilayah Puskesmas Tahun
c. Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun .

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas
Diharapkan dapat memberi manfaat sebagai bahan untuk meningkatkan pelayanan bagi ibu menyusui dan sebagai masukan untuk melakukan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya memberikan ASI secara eksklusif.
2. Bagi Institusi Pendidikan Kebidanan Jambi
Sebagai salah satu bahan pustaka bagai penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu dan bayi.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui Hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI di Puskesmas Tahun , dimana variabel yang diteliti adalah tingkat pengetahuan ibu tentang ASI sebagai variabel bebas. Dan pemberian PASI sebagai variabel tidak bebas. Pengambilan data penelitian ini dilakukan pada bulan Maret . Populasi penelitian ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi umur 0 – 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kota Jambi. Sampel penelitian ditentukan secara Purposive Sampling yaitu sampel yang memenuhi kriteria penelitian, dalam hal ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi umur 0 – 6 bulan yang berjumlah 60 reponden. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara Univariat dan bivariat.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.294

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Pengetahuan Ibu tentang ASI terhadap Pemberian PASI pada Bayi 0-6 Bulan di Wilayah Puskesmas


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat. Menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan pada bayi dan anak karena bayi dan anak merupakan golongan rentan.
(http://bared18.blogspot.com/2008/07/tentangASI).Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar empat bulan (Depkes R1, 1992)
Produksi ASI sangat dipengaruhi kondisi psikis si ibu. Bila hati ibu tenang, bahagia, maka produksi ASI-nya bakal berlimpah. ASI diproduksi sesuai dengan permintaan. Bila bayi Anda butuh 100 cc maka ASI yang bakal diproduksi pun 100cc. Jadi, jangan takut ASI-nya tidak mencukupi kebutuhan bayi (http://asuh.wikia.com/wiki/ASI_sedikit). ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu botol atau susu formula. Kalau hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.
Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997).
Makanan pendamping ASI (PASI) adalah makanan yang diberikan kepada bayi setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun. Namun, saat ini banyak ibu yang memberikan bayi mareka PASI, dan mereka menghentikan ASInya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya seperti tingkat pengetahuan ibu masih rendah sehingga menggantikan ASI dengan pemberian PASI. Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian ASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu produksi ASI. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (Manuaba, 1998).
Menyusui merupakan salah satu hal yang sangat penting guna kelangsungan hidup bayi dan sekaligus mempertahankan kesehatan ibu setelah melahirkan. ASI merupakan makanan terbaik dan alamiah untuk bayi. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja sampai umur 6 bulan. Dari 11.817 bayi di hanya 1.034 atau baru 8,75% yang diberi ASI eksklusif. Melihat hal tersebut maka angka ini belum mencapai target. (Profil , 2008 : 46).
Menurut data Dinas Kesehatan (2008) berdasarkan wilayah kerja Puskesmas bahwa jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif di Puskesmas 9,59%, Puskesmas Aur Duri 26,10% dan Puskesmas Tahtul Yaman 25,19%. Ketiga Puskesmas tersebut dipilih karena jarak antar Puskesmas tidak berjauhan. Puskesmas dengan jumlah bayi 292 orang hanya 28 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan persentase yang paling rendah diantara ketiga Puskesmas tersebut.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas 2009, diketahui dari 29 bayi hanya 4 bayi (13,79%) yang diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang sebagai makanan tambahan bagi bayinya atau lebih dikenal dengan makanan pendamping ASI.
Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Tahun 2009.

B. Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah masih ada ibu dengan tingkat pengetahuan ASI yang rendah sehingga melakukan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun .
Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun ?
2. Bagaimana gambaran pemberian PASI oleh ibu pada bayi 0-6 bulan di wilayah Puskesmas Tahun ?
3. Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun .
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun .
b. Diketahuinya gambaran pemberian PASI oleh ibu pada bayi 0-6 bulan di wilayah Puskesmas Tahun
c. Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Tahun .

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas
Diharapkan dapat memberi manfaat sebagai bahan untuk meningkatkan pelayanan bagi ibu menyusui dan sebagai masukan untuk melakukan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya memberikan ASI secara eksklusif.
2. Bagi Institusi Pendidikan Kebidanan Jambi
Sebagai salah satu bahan pustaka bagai penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu dan bayi.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui Hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI di Puskesmas Tahun , dimana variabel yang diteliti adalah tingkat pengetahuan ibu tentang ASI sebagai variabel bebas. Dan pemberian PASI sebagai variabel tidak bebas. Pengambilan data penelitian ini dilakukan pada bulan Maret . Populasi penelitian ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi umur 0 – 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kota Jambi. Sampel penelitian ditentukan secara Purposive Sampling yaitu sampel yang memenuhi kriteria penelitian, dalam hal ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi umur 0 – 6 bulan yang berjumlah 60 reponden. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara Univariat dan bivariat.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.293

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Pengetahuan tentang Tuberculosis Paru dengan Kepatuhan Berobat Pasien Tuberculosis Paru di Puskesmas


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.1 Latar Belakang
Penyakit tubercolusis atau yang sering disebut TBC adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tubercolusis (Danusantoso,2002). Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu yang lama untuk mengobatinya, disamping rasa bosan karena harus minum obat dalam waktu yang lama seseorang penderita kadang-kadang juga berhenti minum obat sebelum massa pengobatan belum selesai hal ini dikarenakan penderita belum memahami bahwa obat harus ditelan seluruhnya dalam waktu yang telah ditentukan, serta pengetahuan yang kurang tentang penyakit sehingga akan mempengaruhi kepatuhan untuk berobat secara tuntas.
Tuberculosis merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. Dengan penduduk lebih dari 200juta orang, di indonesia menempati urutan ketiga di dunia setelah india dan china dalam hal jumlah penderita TB paru sekitar 583 ribu orang dan diperkirakan sekitar 140 ribu orang meningal dunia tiap tahun akibat TBC. Sedangkan di jawa timur sendiri menempati urutan ke 2 setelah jawa barat dengan kasus sekitar 37 ribu penderita (depkes RI, 2007). Di seluruh kab sendiri terdapat lebih dari 230 kasus, dengan angka kematian rata-rata 10 orang tiap bulannya sedangkan di puskesmas sendiri terdapat 13 pasien tubercolusis dengan BTA positif dan 4 dengan BTA negatif 1 orang putus obat (tidak patuh berobat)
Berhasil atau tidaknya pengobatan tuberculosis tergantung pada pengetahuan pasien, keadaan sosial ekonomi serta dukungan dari keluarga. Tidak ada upaya dari diri sendiri atau motivasi dari keluarga yang kurang memberikan dukungan untuk berobat secara tuntas akan mempengaruhi kepatuhan pasien untuk mengkonsunsi obat(Dr.Indan Enjang, 2002).Apabila ini dibiarkan dampak yang akan muncul jika penderita berhenti minum obat adalah munculnya kuman tubercolusis yang resisten terhadap obat, jika ini terus terjadi dan kuman tersebut terus menyebar pengendalian obat tubercolusis akan semakin sulit dilaksanakan dan meningkatnya angka kematian terus bertambah akibat penyakit tubercolusis.
Tujuan pengobatan pada penderita tubercolusis bukanlah sekedar memberikan obat saja, akan tetapi pengawasan serta memberikan pengetauan tentang penyakit ini untuk itu hendaknya petugas kesehatan memberikan penyuluhan kepada penderita dan keluarganya agar pengetauan mereka mengetahui resiko-resiko dan meningkatkan kepatuhan untuk berobat secara tuntas. Dalam program DOTS ini diupayakan agar penderita yang telah menerima obat atau resep untuk selanjutnya tetap membeli atau mengambil obat, minum obat secara teratur, kembali control untuk menilai hasil pengobatan.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Pertanyaan Masalah
Adakah hubungan pengetahuan tuberculosis paru dengan tingkat kepatuhan berobat pasien tuberculosis paru di puskesmas , kab ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan penyakit tuberculosis dengan tingkat kepatuhan berobat pasien tuberculosis di puskesmas , kab
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien tuberculosis di puskesmas , kab
2. Mengidentifikasi kepatuhan berobat pasien tubercolusis di puskesmas , kab
3. Menganalisis hubungan pengetahuan penyakit tuberculosis dengan kepatuhan berobat pasien tubercolusis di puskesmas , kab

1.3 Manfaat Penelitian
1.3.1 Bagi Instansi Pelayanan Kesehatan
Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat khususnya penderita tubercolusis, sehingga akan meningkatkan kualitas asuahan keperawatan dan kualitas hidup penderita serta memberi masukan kepada petugas kesehatan tentang pentingnya penyuluhan penyakit tubercolusis kepada masyarakat khususnya penderita tubercolusis
1.3.2 Bagi Pasien
Memberikan pengetahuan tentang penyakit tuberculosis dalam meningkatkan kepatuhan berobat pasien tuberculosis di puskesmas , kab
1.3.3 Bagi Ilmu Keperawatan
Sebagai sumbangan ilmu pengetahuan tentang asuhan keperawatan tentang tubercolusis paru
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai masukan data dan sumbangan pemikiran perkembangan pengetahuan untuk peneliti selanjutnya.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.292

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah Kesehatan dunia semakin bertambah kompleks dengan munculnya berbagai macam penyakit menular. Sebagian dari penyakit tersebut memang bersifat global, tidak mengenal batas negara. Sebagian lagi telah sering berjangkit tetapi polanya berubah serta jumlah kasusnya semakin bertambah, seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), Flu burung (Afian Influenza) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) (Anies, 2006).
Bertambahnya jumlah penduduk dan jumlah pemukiman yang tidak memenuhi syarat kesehatan sangat mempercepat terjadinya penularan penyakit dari orang ke orang. Faktor pertumbuhan penduduk dan mobilitas penduduk antar daerah juga mempengaruhi perubahan gambaran epidemiologis serta virulensi dari penyakit menular tertentu (Chin, 2000).
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit febris akut ditemukan pertama kali terjadi pada tahun 1780-an secara bersamaan di Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Penyakit ini kemudian dikenali dan dinamai pada tahun 1779. Wabah besar global dimulai di Asia Tenggara pada Tahun 1950-an dan hingga tahun 1975 demam berdarah ini telah menjadi penyebab kematian utama diantaranya yang terjadi pada anak-anak di daerah tersebut (Depkes, 2006).
Di Indonesia demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang endemis dan hingga saat ini angka kesakitan DBD cenderung meningkat dan kejadian luar biasa (KLB) masih sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia ( Depkes RI, 2005).
Penyakit DBD pertama kali di temukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1970. Di Jakarta, kasus pertama dilaporkan pada tahun 1969. Kemudian DBD berturut turut dilaporkan di Bandung dan Yogyakarta (1972) (Depkes RI, 2002). Sejak saat itu penyakit tersebut menyebar yang semula dianggap siklus lima tahunan, kini setiap tahun mewabah diberbagai daerah dan penderitanya sudah bukan anak-anak lagi tetapi penderita dewasa semakin banyak, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali timor-timur telah terjangkit penyakit (Wulandari, 2004).
Departemen kesehatan telah mengupayakan manajemen program dalam mengatasi kasus DBD, pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang di taburkan ketempat penampungan air yang sulit di bersihkan. Manajemen program yang diterapkan oleh Departemen Kesehatan telah menjadi protap bagi semua daerah dari tingkat Provinsi sampai dengan Kabupaten/Kota namun sampai saat ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan.
Kasus tahun 2004 secara nasional adalah 79.482 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 957 penderita (case fatality rate sebesar 1,2 %) dan incidence rate sebesar 37,01 per 10.000 penduduk, maka jumlah kasus tahun ini lebih besar di bandingkan tahun 2003 yaitu 52.566 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 788 kasus, (case fatality rate sebesar 1,5 %) dan incidence rate sebesar 24,34 per 10.000 penduduk (Depkes RI, 2006).
Penyakit Demam Berdarah Dengue di Provinsi tahun 2005 sebanyak 206 penderita (IR 23,5/100.000) dengan 7 kematian (CFR 3,29%), tahun 2006 sebanyak 302 penderita (IR 32,9/100.000) dengan 2 kematian (CFR 0,66%) , tahun 2007 sebanyak 236 penderita (IR 25,70/100.000) jumlah kematian 4 (CFR 2,1%), tahun 2008 sebanyak 129 penderita (IR 13,65/100.000) dengan kematian 2 penderita (CFR 1,55%), tahun 2009 sebanyak 93 penderita (IR 9,39/100.000) kematian 2 penderita (CFR 2,15%) (Provinsi tahun 2009).
Sejak Kota menjadi menjadi Ibukota Provinsi pada tahun 2001 arus mobilisasi penduduk di Kota semakin meningkat, dan pada lima tahun terakhir ini Kota sering dilanda musibah banjir yang terjadi setiap tahun. Keadaan ini merupakan salah satu faktor pencetus meningkatnya kasus demam berdarah di Kota .
Berdasarkan jumlah kasus yang ada dapat di gambarkan bahwa sebelumnya Kota tidak pernah di temukan kasus demam berdarah, maka pada tahun 2001 telah di temukan 2 penderita demam berdarah (IR 1,49/100.000 penduduk), kemudian pada tahun 2002 tidak di temukan penderita demam berdarah, pada tahun 2003 di temukan lagi 12 penderita demam berdarah (IR 8,86/100.000 penduduk), tahun 2004 ditemukan 6 penderita demam berdarah (IR 4,31/100.000 penduduk) dengan kematian 2 orang (CFR 33,3%) tahun 2005 terjadi lonjakan kasus dengan 183 penderita (IR 89,26/100.000 penduduk) dengan jumlah kematian 4 orang (CFR 3%), dan pada tahun 2006 ditemukan 133 penderita (IR 89,26/100.000 penduduk), jumlah kematian 4 orang (CFR 2%), dan angka bebas jentik (HI 86%), dan berstatus daerah endemis.
Tabel 1.1
Jumlah Kasus, Kematian, IR dan CFR, Kasus Demam Berdarah
Di Kota dari tahun 2001 S/D Bulan Februari
No Bulan Jumlah
Penduduk Jumlah
Kasus Jumlah
kematian IR
(100.000) CFR
1 2001 133,743 2 0 1,49 0
2 2002 134,994 0 0 0 0
3 2003 135,358 12 2 8,86 0,1
4 2004 138,945 6 2 4,31 33,3
5 2005 142,432 183 4 128,4 2,2
6 2006 148,996 133 4 89,26 3
7 2007 151.067 124 3 82,08 2,41
8 2008 161.530 99 3 61,28 3
9 2009 174.382 86 1 57.34 1.16
10 s/d Feb 2010 185.562 90 4 48.50 4.4
Sumber : Dikes Kota, 2010
Berdasarkan data yang ada, perkembangan penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota terlihat masih tinggi yang tersebar di tujuh wilayah kerja puskesmas, di bandingkan dengan target nasional IR 20/100.000, CFR 1%, dan HI >95%.
Untuk Puskesmas tahun 2009 bulan Oktober jumlah kasus DBD sebanyak 2 kasus, bulan November sebanyak 3 kasus dan bulan Desember sebanyak 7 kasus dengan jumlah penduduk pada tahun ini adalah 20.938 jiwa sehingga (IR 5,73/10.000 penduduk) CFR 0%. Pada bulan Januari tahun 2010 terjadi peningkatan kasus DBD yang signifikan sebanyak 26 kasus dengan 1 kematian dan bulan Februari sebanyak 2 kasus. Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas tahun 2010 mencapai 21.952 jiwa, maka IR kasus DBD sampai bulan Februari 2010 yaitu 11,8/10.000, CFR 3,8%.
Keadaan ini salah satunya disebabkan oleh masih rendahnya peran serta masyarakat Kota dalam mencegah dan memberantas penyakit DBD, seperti belum terbentuknya Pokjanal DBD di Kota , rumah tangga yang Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) yang masih rendah (42%), kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh masyarakat yang tidak kontinyu, Masyarakat yang menempati rumah sehat dan lingkungan sehat yang masih rendah (43%). Masyarakat yang memiliki tempat sampah (52%) (Riskesdas, 2008).
Untuk daerah Wilayah Kerja Puskesmas yang terdiri dari 5 kelurahan yaitu Kelurahan Huangobotu, Kelurahan Tomulobutao, Kelurahan Tomulobutao Selatan, Kelurahan Tuladenggi dan Kelurahan Libuo, Sebagian besar merupakan daerah Perumnas (Perumahan Nasional) yang tingkat kepadatan penduduknya cukup tinggi. Saluran air rumah tangga di beberapa tempat banyak yang airnya tidak mengalir sehingga terjadi tampungan air dalam waktu yang lama dan hal ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat sekitar untuk memperbaikinya, disamping itu juga di lingkungan sekitar perumahan warga banyak terdapat barang-barang bekas yang dapat menampung air seperti kemasan air mineral yang dibiarkan begitu saja tanpa ada kesadaran dari masyarakat untuk menguburnya. Kebiasaan masyarakat menggantung pakaian masih cukup tinggi, kebiasaan menampung air di bak mandi dalam waktu yang lebih dari seminggu tanpa mengurasnya di karenakan distribusi air rumah tangga yang sering terganggu khususnya di daerah Perumnas.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh apakah faktor perilaku mayarakat yang meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan merupakan faktor yang ada hubungannya dengan kejadian penyakit DBD di Wilayah kerja puskesmas yang merupakan daerah endemis penyakit DBD

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
“Apakah ada hubungan perilaku masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Kota selang Oktober 2009 - Februari ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan perilaku masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas selang Oktober - Februari .
2. Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui hubungan pengetahuan masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas selang Oktober -Februari .
2) Untuk mengetahui hubungan sikap masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas selang Oktober - Februari .
3) Untuk mengetahui hubungan tindakan masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas selang Oktober - Februari .

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Manfaat Ilmiah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmiah dan bahan bacaan bagi masyarakat dan peneliti yang ingin melanjutkan penelitian ini mengenai Penyakit DBD di Kota .
2. Manfaat Institusi
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi pengambil keputusan untuk perbaikan program pencegahan dan penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue baik di Dinas kesehatan maupun di Puskesmas.
3. Manfaat Praktis
Bagi peneliti untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman berharga dalam pendidikan khususnya tentang penyakit Demam Berdarah Dengue.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.291

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

BELUM KETEMU JUGA, CARI LAGI YANG TELITI: